- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- The Lounge
Inilah 10 Wonderkid yang Gagal Bersinar


TS
coblain
Inilah 10 Wonderkid yang Gagal Bersinar
Berikut para pemain berlabel wonderkid yang gagal bersinar:

Bojan Krkic: Produk Gagal La Masia
Pemain kelahiran Spanyol berusia 23 tahun ini merupakan jebolan La Masia, akademi sepak bola Barcelona. Namanya menjadi buah bibir setelah melakoni debut bersama tim utama Barca pada tahun 2007. Usianya saat itu baru 17 tahun 23 hari, lebih muda daripada usia Messi saat menjalani debut.
Namun setelah itu karirnya seperti berjalan di tempat. Bojan tak mampu bersaing di lini depan Barca yang ditempati para penyerang seperti Ronaldinho, Samuel Eto’o, Zlatan Ibrahimovic hingga Lionel Messi sendiri.
Ia dilepas ke AS Roma musim lalu namun karirnya tak juga membaik di Italia. Pada musim berikutnya, ia hijrah ke AC Milan dan musim ini ia bermain untuk Ajax Amsterdam.

Giovanni Dos Santos: Akibat Dugem
Pemain kelahiran 1989 ini merupakan jebolan akademi Barcelona. Ia direkrut Tottenham Hotspur pada 2008. Pada laga terakhirnya berseragam Barca, ia mencetak hatrik. Rekor tersebut, ditambah fakta bahwa ia jebolan La Masia, membuat banyak orang menganggapnya sebagai calon bintang.
Namun harapan itu tak sanggup ia penuhi. Pemain kelahiran Meksiko itu tak mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Spurs pun meminjamkannya Ipswich Town, Galatasaray hingga Racing Santander.
Faktor utama penyebab keterpurukan karirnya adalah perilakunya yang tak disiplin. Pelatih Spurs saat itu, Harry Redknapp, sempat memberikan peringatan kepadanya karena terlalu sering keluar malam. Menurut Redknapp, Dos Santos sering telat datang latihan pagi di hari Senin.
Meski demikian, Dos Santos berhasil mengantar Meksiko meraih emas di Olimpiade London 2012.

Anthony Vanden Borre: Tenggelam di Italia
Vanden Borre berasal dari Anderlecht, seangkatan dengan Vincent Kompany, yang sekarang menjadi kapten Manchester City. Keduanya digadang-gadang sebagai bintang masa depan Belgia pada tahun 2005.
Vanden Borre, yang saat ini berusia 25 tahun, bahkan mendapat perhatian jauh lebih besar daripada Kompany. Sebagai gelandang, Vanden Borre menuai puja-puji berkat teknik, akurasi umpan serta visinya dalam bermain.
Sayangnya, pemain binaan Anderlecht itu gagal memenuhi harapan orang-orang saat ia pindah ke liga yang lebih besar: Seri A. Bersama Fiorentina, ia hanya bertahan setengah musim, dua kali tampil.
Vanden Borre kemudian dilepas ke Genoa, ditukar dengan Papa Waigo. Di Genoa, Vanden Borre juga hanya bertahan satu setengah musim. Pada 2009-10 ia dilepas ke Portsmouth. Setahun di Inggris, sang gelandang dijual ke RC Genk dan sekarang kembali ke klub masa kecilnya, Anderlecht.

Javier Saviola: Dikecewakan Barcelona
Saviola memulai karirnya bersama River Plate dan mulai bersinar setelah menjadi pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak Piala Dunia U-20 tahun 2001. Barcelon pun tak ragu mengeluarkan 15 juta Pound pada tahun yang sama untuk memboyongnya.
Awal karirnya di Camp Nou cukup lancar, mencetak 17 gol dalam semusim. Namun saat Franck Rijkaard melatih, karirnya mulai meredup. Pelatih asal Belanda itu lebih suka memasang penyerang Timnas Belanda, Patrick Kluivert.
Di Barca, ia hanya berhasil meraih gelar Piala Super Spanyol. Dua musim terakhirnya bersama Barcelona dihabiskannya sebagai pemain pinjaman di AS Monaco dan Sevilla. Pada 2007, ia dilepas ke Real Madrid.
Namanya memang tercatat sebagai salah satu pemain Madrid saat meraih gelar La Liga 2007-08, namun selama dua musim Saviola hanya tampil total 17 kali di La Liga.
Ia kemudian melanglang buana ke Benfica dan Malaga sebelum kini bermain untuk Olimpiakos dari Yunani.

Alexandre Pato: Dibuang AC Milan
Pemain berjuluk Si Bebek ini direkrut AC Milan dari klub Brasil Internacional pada 2007. Usianya saat itu baru 18 tahun.
Satu momen yang membuatnya digadang-gadang sebagai bintang masa depan adalah debutnya bersama Internacional pada 2006. Ia mencetak gol pada menit pertama dan menciptakan dua assist saat Inter menang 4-1 atas Palmeiras. Tak hanya itu, Pato menunjukkan skil individu di atas rata-rata pada laga tersebut.
Ia sempat enam musim bersama Rossoneri, menjalani 150 pertandingan dan mencetak 63 gol. Pato juga berjasa menghadirkan gelar Seri A 2010-11. Namun cedera betis yang kerap kambuh membuatnya hanya bisa tampil 15 kali di Seri A selama dua musim terakhirnya.
Pato akhirnya kembali ke Brasil, memperkuat Corinthians pada Januari 2013. Hingga kini, ia sudah tampil 23 kali dan mencetak delapan gol.

Freddy Adu: Gagal Penuhi Harapan AS
Pemain warga negara Amerika Serikat kelahiran Ghana, 1989 ini sempat dianggap sebagai Michael Jordan-nya sepak bola Amerika Serikat pada tahun 2002. Namun sekarang, 11 tahun kemudian, remaja AS sendiri bahkan tak banyak yang mengenal namanya.
Pada usia 13 tahun, Adu sudah menandatangani kontrak komersial dengan Nike senilai 1 juta dolar AS. Pada usia 14 tahun, ia menadi pesepak bola dengan bayaran tertinggi di MLS (Liga Sepak bola AS). DC United saat itu mengontraknya dengan nilai 500 ribu dolar AS per tahun, sekaligus menjadikannya sebagai atlet profesional termuda dalam 100 tahun terakhir.
Di musim perdananya, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang itu tampil cukup lumayan, mencetak lima gol dari 14 pertandingan. Namun dua musim berikutnya ia hanya bisa mencetak total enam gol. Adu kemudian dilepas ke Real Salt Lake.
Pada 2006, ‘bocah ajaib AS’ menjalani masa percobaan bersama Manchester United selama dua pekan, namun gagal mengesankan Sir Alex Ferguson Adu kemudian dijual ke Benfica. Sekarang Adu memperkuat klub Brasil, Bahia.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Adu disebutwonderkid.Ia tampil cemerlang bersama tim nasional Amerika Serikat junior, mencetak 37 gol dari 59 pertandingan. Pada usia 18 tahun, ia menjadi kapten Timnas U-20, mencetak hatrik lawan Polandia dan memimpin timnya mengalahkan Brasil.
Namun torehan itu menurun drastis bersama tim senior. Ia hanya mencetak dua gol dan tak pernah dipakai lagi selama dua tahun, hingga dipanggil kembali ke ajang Gold Cup 2011. Tetapi setelah itu, ia lagi-lagi tak dipanggil Timnas.

Kerlon Si Walrus: Dibungkam Cedera
Kerlon Moura Souza, penyerang asal Brasil kelahiran 1988, sempat ditahbiskan sebagai The Next Ronaldinho. Pemain binaan Cruzeiro itu tipikal penyerang Brasil: punya skil individu di atas rata-rata, baik dribbling maupun eksekusi bola mati.
Ia dijuluki The Walrus untuk aksi individu yang jadi ciri khasnya saat itu. Alih-alih menggiring bola dengan kaki, ia justru menyundul-nyundul bola dengan kepalanya sambil berlari. Karena aksi ini pula, ia kerap mendapat tendangan di dada dari pemain lawan yang kehabisan ide untuk menghentikannya.
Pada periode 2004-2005, Kerlon menjadi penggawa utama Timnas Brasil U-17, mencetak delapan gol dari tujuh laga.
Dengan segala keistimewaan itu, Inter Milan merekrutnya pada 2008. Sayang, meski berkostum Biru-Hitam selama empat tahun, ia tak sekalipun dimainkan. Nerazzurri justru terus meminjamkannya.
Cedera lutut kronis mematikan karir Kerlon. Sejak 2008 hingga 2012, sang penyerang tercatat pernah memperkuat lima klub, yakni Inter, Chievo, Ajax Amsterdam, Parana dan Nacional-NS. Namun selama empat musim itu ia tercatat hanya lima kali tampil di liga.
Kerlon kemudian mencoba peruntungan di Fujieda MYFC dari Liga Jepang pada 2012. Karirnya membaik. Hingga kini, ia sudah tampil 22 kali dan mencetak sembilan gol.

Bebe: Wonderkid Palsu, Aib Ferguson
Pemain Portugal kelahiran 1990 ini adalah salah satu contoh wonderkid palsu. Tak tanggung-tanggung, pelatih yang tertipu adalah pelatih sarat pengalaman, Sir Alex Ferguson.
Ferguson merekrut Bebe pada 2010 hanya berbekal kepercayaan terhadap mantan asistennya, Carlos Queiroz. Entah darimana asalnya, Queiroz memunculkan nama pemain yang berposisi sebagai penyerang ini.
Beberapa waktu kemudian, setelah proses transfer rampung, Fergie mengakui bahwa ia belum sekalipun melihat aksi Bebe, baik lewat rekaman video maupun secara langsung. Pelatih yang memutuskan pensiun akhir musim lalu itu bahkan mengatakan ia baru melihat muka sang pemain saat penandatanganan kontrak.
Sebelumnya, Bebe sempat ditawarkan kepada PSV Eindhoven, namun klub asal Belanda itu menolak karena tak tahu sama sekali asal-usul sang pemain.
Latar belakang Bebe pun menjadi misteri, bahkan di masa awalnya bergabung dengan MU. Ada yang bilang ia tampil cemerlang di turnamen Piala Dunia Tunawisma 2010 namun hal itu dibantah pihak penyelenggara turnamen tersebut.
Satu-satunya catatan yang diakui kebenarannya adalah pemain tersebut merupakan pemain street ball, turnamen lapangan kecil dengan jumlah pemain tak lebih dari lima orang per tim.
Sepanjang karirnya, Bebe hanya dua kali tampil di liga bersama MU. Namun berkat Setan Merah, karir Bebe sebagai pesepak bola profesional terbuka. Ia sempat memperkuat Rio Ave di Portugal dan tampil 17 kali sebelum pindah ke Pacos Ferreira.
Bebe mungkin menjadi aib terbesar sepanjang karir Ferguson, terutama dalam keputusannya memilih pemain.

Denilson: Bikin Real Betis Rugi
Pemain berposisi sayap kelahiran 1977 memecahkan rekor pemain termahal di dunia saat dibeli Real Betis dari Sao Paulo seharga 21,5 juta Pound pada usia 21 tahun. Namun jumlah tersebut tak sepadan dengan sumbangsihnya.
Selama tujuh tahun bersama Betis, penampilannya tergolong medioker. Selama 186 kali bertanding di La Liga, pemain kelahiran Diadema, Brasil ini hanya sanggup melesakkan 13 gol. Ia hanya sanggup mempersembahkan satu gelar, yakni Copa Del Rey 2004-05.
Tak hanya gagal mempersembahkan gelar, citra Denilson ternyata tak laku untuk dikomersilkan. Betis pun apes dua kali: tak dapat gelar plus tak dapat pemasukan dari pemain termahal di dunia itu.
Setelah meninggalkan Betis tahun 2005, Denilson tak pernah menetap di satu klub lebih dari semusim. Ia melalang buana ke Prancis, Qatar, Amerika Serikat, Brasil, Cina hingga terakhir memperkuat klub amatir Yunani Kavala.Ia pensiun pada 2010.

Michael Owen: Menyerah Pada Cedera
Secara statistik, karir pemain kelahiran 1979 binaan Liverpool ini tak bisa dibilang gagal. Ia menjalani debutnya di Liga Primer Inggris bersama The Reds pada 1996, saat usianya masih 17 tahun.
Owen kemudian menjadi pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris selama dua musim berikutnya. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak Liverpool sejak 1997 hingga 2004. Sayangnya, Michael James Owen tak bisa meraih gelar utama seperti Liga Primer maupun Liga Champions.
Namun penyerang gesit ini sudah merasakan gelar Piala Liga, Piala FA dan Piala UEFA bersama Liverpool. Selama delapan musim bersama Liverpool, Owen mencetak 118 gol dari 216 laga, menjadikannya pemain termuda yang pernah mencetak 100 gol di Liga Primer Inggris.
Penampilan cemerlangnya di awal karir membuatnya dilirik Timnas Inggris. Ia menjalani debutnya pada 1998 dan tercatat sebagai pemain termuda untuk Timnas Inggris dan pemain termuda yang mencetak gol untuk Timnas Inggris.
Namun ini justru jadi awal petaka karirnya. Masuknya Owen ke skuad Timnas Inggris untuk Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 membuatnya tak punya banyak waktu untuk memulihkan otot-ototnya yang masih muda setelah menjalani musim yang padat. Cedera pun mulai datang silih berganti.
Pada musim 2004-05, ia dilepas ke Real Madrid dengan harga 8 juta Pound. Ia hanya bertahan semusim meski berhasil tampil 36 kali dan melesakkan 13 gol. Musim berikutnya, ia dilepas ke Newcastle United.
Di usianya yang ke-26, yang seharusnya menjadi usia emas pesepak bola, karir Owen justru menurun. Pada musim 2006-07, cedera membuatnya absen nyaris semusim lamanya. Ia hanya tampil tiga kali di liga bersama Newcastle.
Sejak saat itu, Owen jarang tampil sejak awal laga dan akhirnya pensiun pada akhir musim 2012-13, pada usia 33 tahun.
Sekian informasi dari ane gan.. Cuma ingin berbagi aja ke sesama penggemar bola..
gak ngarepin cendol,
gak ngarepin bata,
gak ngarepin di rate bintang 5.
Just read and Enjoy..
[URL="http://bola.inilah..com/read/detail/2039959/inilah-10-wonderkid-yang-gagal-bersinar#.UmkquXCnpig"]Sumber[/URL]
Spoiler for 1 :

Bojan Krkic: Produk Gagal La Masia
Pemain kelahiran Spanyol berusia 23 tahun ini merupakan jebolan La Masia, akademi sepak bola Barcelona. Namanya menjadi buah bibir setelah melakoni debut bersama tim utama Barca pada tahun 2007. Usianya saat itu baru 17 tahun 23 hari, lebih muda daripada usia Messi saat menjalani debut.
Namun setelah itu karirnya seperti berjalan di tempat. Bojan tak mampu bersaing di lini depan Barca yang ditempati para penyerang seperti Ronaldinho, Samuel Eto’o, Zlatan Ibrahimovic hingga Lionel Messi sendiri.
Ia dilepas ke AS Roma musim lalu namun karirnya tak juga membaik di Italia. Pada musim berikutnya, ia hijrah ke AC Milan dan musim ini ia bermain untuk Ajax Amsterdam.
Spoiler for 2:

Giovanni Dos Santos: Akibat Dugem
Pemain kelahiran 1989 ini merupakan jebolan akademi Barcelona. Ia direkrut Tottenham Hotspur pada 2008. Pada laga terakhirnya berseragam Barca, ia mencetak hatrik. Rekor tersebut, ditambah fakta bahwa ia jebolan La Masia, membuat banyak orang menganggapnya sebagai calon bintang.
Namun harapan itu tak sanggup ia penuhi. Pemain kelahiran Meksiko itu tak mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Spurs pun meminjamkannya Ipswich Town, Galatasaray hingga Racing Santander.
Faktor utama penyebab keterpurukan karirnya adalah perilakunya yang tak disiplin. Pelatih Spurs saat itu, Harry Redknapp, sempat memberikan peringatan kepadanya karena terlalu sering keluar malam. Menurut Redknapp, Dos Santos sering telat datang latihan pagi di hari Senin.
Meski demikian, Dos Santos berhasil mengantar Meksiko meraih emas di Olimpiade London 2012.
Spoiler for 3:

Anthony Vanden Borre: Tenggelam di Italia
Vanden Borre berasal dari Anderlecht, seangkatan dengan Vincent Kompany, yang sekarang menjadi kapten Manchester City. Keduanya digadang-gadang sebagai bintang masa depan Belgia pada tahun 2005.
Vanden Borre, yang saat ini berusia 25 tahun, bahkan mendapat perhatian jauh lebih besar daripada Kompany. Sebagai gelandang, Vanden Borre menuai puja-puji berkat teknik, akurasi umpan serta visinya dalam bermain.
Sayangnya, pemain binaan Anderlecht itu gagal memenuhi harapan orang-orang saat ia pindah ke liga yang lebih besar: Seri A. Bersama Fiorentina, ia hanya bertahan setengah musim, dua kali tampil.
Vanden Borre kemudian dilepas ke Genoa, ditukar dengan Papa Waigo. Di Genoa, Vanden Borre juga hanya bertahan satu setengah musim. Pada 2009-10 ia dilepas ke Portsmouth. Setahun di Inggris, sang gelandang dijual ke RC Genk dan sekarang kembali ke klub masa kecilnya, Anderlecht.
Spoiler for 4:

Javier Saviola: Dikecewakan Barcelona
Saviola memulai karirnya bersama River Plate dan mulai bersinar setelah menjadi pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak Piala Dunia U-20 tahun 2001. Barcelon pun tak ragu mengeluarkan 15 juta Pound pada tahun yang sama untuk memboyongnya.
Awal karirnya di Camp Nou cukup lancar, mencetak 17 gol dalam semusim. Namun saat Franck Rijkaard melatih, karirnya mulai meredup. Pelatih asal Belanda itu lebih suka memasang penyerang Timnas Belanda, Patrick Kluivert.
Di Barca, ia hanya berhasil meraih gelar Piala Super Spanyol. Dua musim terakhirnya bersama Barcelona dihabiskannya sebagai pemain pinjaman di AS Monaco dan Sevilla. Pada 2007, ia dilepas ke Real Madrid.
Namanya memang tercatat sebagai salah satu pemain Madrid saat meraih gelar La Liga 2007-08, namun selama dua musim Saviola hanya tampil total 17 kali di La Liga.
Ia kemudian melanglang buana ke Benfica dan Malaga sebelum kini bermain untuk Olimpiakos dari Yunani.
Spoiler for 5:

Alexandre Pato: Dibuang AC Milan
Pemain berjuluk Si Bebek ini direkrut AC Milan dari klub Brasil Internacional pada 2007. Usianya saat itu baru 18 tahun.
Satu momen yang membuatnya digadang-gadang sebagai bintang masa depan adalah debutnya bersama Internacional pada 2006. Ia mencetak gol pada menit pertama dan menciptakan dua assist saat Inter menang 4-1 atas Palmeiras. Tak hanya itu, Pato menunjukkan skil individu di atas rata-rata pada laga tersebut.
Ia sempat enam musim bersama Rossoneri, menjalani 150 pertandingan dan mencetak 63 gol. Pato juga berjasa menghadirkan gelar Seri A 2010-11. Namun cedera betis yang kerap kambuh membuatnya hanya bisa tampil 15 kali di Seri A selama dua musim terakhirnya.
Pato akhirnya kembali ke Brasil, memperkuat Corinthians pada Januari 2013. Hingga kini, ia sudah tampil 23 kali dan mencetak delapan gol.
Spoiler for 6:

Freddy Adu: Gagal Penuhi Harapan AS
Pemain warga negara Amerika Serikat kelahiran Ghana, 1989 ini sempat dianggap sebagai Michael Jordan-nya sepak bola Amerika Serikat pada tahun 2002. Namun sekarang, 11 tahun kemudian, remaja AS sendiri bahkan tak banyak yang mengenal namanya.
Pada usia 13 tahun, Adu sudah menandatangani kontrak komersial dengan Nike senilai 1 juta dolar AS. Pada usia 14 tahun, ia menadi pesepak bola dengan bayaran tertinggi di MLS (Liga Sepak bola AS). DC United saat itu mengontraknya dengan nilai 500 ribu dolar AS per tahun, sekaligus menjadikannya sebagai atlet profesional termuda dalam 100 tahun terakhir.
Di musim perdananya, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang itu tampil cukup lumayan, mencetak lima gol dari 14 pertandingan. Namun dua musim berikutnya ia hanya bisa mencetak total enam gol. Adu kemudian dilepas ke Real Salt Lake.
Pada 2006, ‘bocah ajaib AS’ menjalani masa percobaan bersama Manchester United selama dua pekan, namun gagal mengesankan Sir Alex Ferguson Adu kemudian dijual ke Benfica. Sekarang Adu memperkuat klub Brasil, Bahia.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Adu disebutwonderkid.Ia tampil cemerlang bersama tim nasional Amerika Serikat junior, mencetak 37 gol dari 59 pertandingan. Pada usia 18 tahun, ia menjadi kapten Timnas U-20, mencetak hatrik lawan Polandia dan memimpin timnya mengalahkan Brasil.
Namun torehan itu menurun drastis bersama tim senior. Ia hanya mencetak dua gol dan tak pernah dipakai lagi selama dua tahun, hingga dipanggil kembali ke ajang Gold Cup 2011. Tetapi setelah itu, ia lagi-lagi tak dipanggil Timnas.
Spoiler for 7:

Kerlon Si Walrus: Dibungkam Cedera
Kerlon Moura Souza, penyerang asal Brasil kelahiran 1988, sempat ditahbiskan sebagai The Next Ronaldinho. Pemain binaan Cruzeiro itu tipikal penyerang Brasil: punya skil individu di atas rata-rata, baik dribbling maupun eksekusi bola mati.
Ia dijuluki The Walrus untuk aksi individu yang jadi ciri khasnya saat itu. Alih-alih menggiring bola dengan kaki, ia justru menyundul-nyundul bola dengan kepalanya sambil berlari. Karena aksi ini pula, ia kerap mendapat tendangan di dada dari pemain lawan yang kehabisan ide untuk menghentikannya.
Pada periode 2004-2005, Kerlon menjadi penggawa utama Timnas Brasil U-17, mencetak delapan gol dari tujuh laga.
Dengan segala keistimewaan itu, Inter Milan merekrutnya pada 2008. Sayang, meski berkostum Biru-Hitam selama empat tahun, ia tak sekalipun dimainkan. Nerazzurri justru terus meminjamkannya.
Cedera lutut kronis mematikan karir Kerlon. Sejak 2008 hingga 2012, sang penyerang tercatat pernah memperkuat lima klub, yakni Inter, Chievo, Ajax Amsterdam, Parana dan Nacional-NS. Namun selama empat musim itu ia tercatat hanya lima kali tampil di liga.
Kerlon kemudian mencoba peruntungan di Fujieda MYFC dari Liga Jepang pada 2012. Karirnya membaik. Hingga kini, ia sudah tampil 22 kali dan mencetak sembilan gol.
Spoiler for 8:

Bebe: Wonderkid Palsu, Aib Ferguson
Pemain Portugal kelahiran 1990 ini adalah salah satu contoh wonderkid palsu. Tak tanggung-tanggung, pelatih yang tertipu adalah pelatih sarat pengalaman, Sir Alex Ferguson.
Ferguson merekrut Bebe pada 2010 hanya berbekal kepercayaan terhadap mantan asistennya, Carlos Queiroz. Entah darimana asalnya, Queiroz memunculkan nama pemain yang berposisi sebagai penyerang ini.
Beberapa waktu kemudian, setelah proses transfer rampung, Fergie mengakui bahwa ia belum sekalipun melihat aksi Bebe, baik lewat rekaman video maupun secara langsung. Pelatih yang memutuskan pensiun akhir musim lalu itu bahkan mengatakan ia baru melihat muka sang pemain saat penandatanganan kontrak.
Sebelumnya, Bebe sempat ditawarkan kepada PSV Eindhoven, namun klub asal Belanda itu menolak karena tak tahu sama sekali asal-usul sang pemain.
Latar belakang Bebe pun menjadi misteri, bahkan di masa awalnya bergabung dengan MU. Ada yang bilang ia tampil cemerlang di turnamen Piala Dunia Tunawisma 2010 namun hal itu dibantah pihak penyelenggara turnamen tersebut.
Satu-satunya catatan yang diakui kebenarannya adalah pemain tersebut merupakan pemain street ball, turnamen lapangan kecil dengan jumlah pemain tak lebih dari lima orang per tim.
Sepanjang karirnya, Bebe hanya dua kali tampil di liga bersama MU. Namun berkat Setan Merah, karir Bebe sebagai pesepak bola profesional terbuka. Ia sempat memperkuat Rio Ave di Portugal dan tampil 17 kali sebelum pindah ke Pacos Ferreira.
Bebe mungkin menjadi aib terbesar sepanjang karir Ferguson, terutama dalam keputusannya memilih pemain.
Spoiler for 9:

Denilson: Bikin Real Betis Rugi
Pemain berposisi sayap kelahiran 1977 memecahkan rekor pemain termahal di dunia saat dibeli Real Betis dari Sao Paulo seharga 21,5 juta Pound pada usia 21 tahun. Namun jumlah tersebut tak sepadan dengan sumbangsihnya.
Selama tujuh tahun bersama Betis, penampilannya tergolong medioker. Selama 186 kali bertanding di La Liga, pemain kelahiran Diadema, Brasil ini hanya sanggup melesakkan 13 gol. Ia hanya sanggup mempersembahkan satu gelar, yakni Copa Del Rey 2004-05.
Tak hanya gagal mempersembahkan gelar, citra Denilson ternyata tak laku untuk dikomersilkan. Betis pun apes dua kali: tak dapat gelar plus tak dapat pemasukan dari pemain termahal di dunia itu.
Setelah meninggalkan Betis tahun 2005, Denilson tak pernah menetap di satu klub lebih dari semusim. Ia melalang buana ke Prancis, Qatar, Amerika Serikat, Brasil, Cina hingga terakhir memperkuat klub amatir Yunani Kavala.Ia pensiun pada 2010.
Spoiler for 10:

Michael Owen: Menyerah Pada Cedera
Secara statistik, karir pemain kelahiran 1979 binaan Liverpool ini tak bisa dibilang gagal. Ia menjalani debutnya di Liga Primer Inggris bersama The Reds pada 1996, saat usianya masih 17 tahun.
Owen kemudian menjadi pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris selama dua musim berikutnya. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak Liverpool sejak 1997 hingga 2004. Sayangnya, Michael James Owen tak bisa meraih gelar utama seperti Liga Primer maupun Liga Champions.
Namun penyerang gesit ini sudah merasakan gelar Piala Liga, Piala FA dan Piala UEFA bersama Liverpool. Selama delapan musim bersama Liverpool, Owen mencetak 118 gol dari 216 laga, menjadikannya pemain termuda yang pernah mencetak 100 gol di Liga Primer Inggris.
Penampilan cemerlangnya di awal karir membuatnya dilirik Timnas Inggris. Ia menjalani debutnya pada 1998 dan tercatat sebagai pemain termuda untuk Timnas Inggris dan pemain termuda yang mencetak gol untuk Timnas Inggris.
Namun ini justru jadi awal petaka karirnya. Masuknya Owen ke skuad Timnas Inggris untuk Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 membuatnya tak punya banyak waktu untuk memulihkan otot-ototnya yang masih muda setelah menjalani musim yang padat. Cedera pun mulai datang silih berganti.
Pada musim 2004-05, ia dilepas ke Real Madrid dengan harga 8 juta Pound. Ia hanya bertahan semusim meski berhasil tampil 36 kali dan melesakkan 13 gol. Musim berikutnya, ia dilepas ke Newcastle United.
Di usianya yang ke-26, yang seharusnya menjadi usia emas pesepak bola, karir Owen justru menurun. Pada musim 2006-07, cedera membuatnya absen nyaris semusim lamanya. Ia hanya tampil tiga kali di liga bersama Newcastle.
Sejak saat itu, Owen jarang tampil sejak awal laga dan akhirnya pensiun pada akhir musim 2012-13, pada usia 33 tahun.
Sekian informasi dari ane gan.. Cuma ingin berbagi aja ke sesama penggemar bola..
gak ngarepin cendol,
gak ngarepin bata,
gak ngarepin di rate bintang 5.
Just read and Enjoy..
[URL="http://bola.inilah..com/read/detail/2039959/inilah-10-wonderkid-yang-gagal-bersinar#.UmkquXCnpig"]Sumber[/URL]
0
17K
Kutip
116
Balasan


Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama


Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan